Quote of The Day ...

QUOTE OF THE DAY:
Build me a son, O Lord, who will be strong enough to know when he is weak, and brave enough to face himself when he is afraid, one who will be proud and unbending in honest defeat, and humble and gentle in victory.~ Douglas MacArthur

Jumat, 10 Desember 2010

Simaeru eNewsletter ~ edisi 14/I/2010

Profesional, Entrepreneur dan Pembelajar,
SEMANGAT PAGI!


Setiap minggu ESTUBIZI Business Center memilih artikel "baik dan indah" (Simaeru) yang membangkitkan inspirasi dan gagasan kreatif yang diambil dari berbagai sumber. Simaeru adalah sebuah kata dalam Bahasa Mentawai, suku terasing di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, yang berarti baik dan indah (good and beautiful).

Topik edisi ini adalah "Keteguhan Hati Seorang Asmara Nababandalam rangka memperingati Hari Hak Asasi Manusia Sedunia: 10 Desember. Selamat menikmati!

Salam Pembelajaran. Mari Belajar Sambil Beramal!
Benyamin Ruslan Naba

ESTUBIZI Business Center - One place more activity
www.estubizi.com ~ http://estubizi.blogspot.com ~ http://simaeru.blogspot.com
Managed by PT Simaeru Indonesia Raya


T: 021-52 900 828
F: 021-52 971 875
SMS: 0882 1010 5812
E: estubizi.business.center@gmail.com

*****************
* Artikel Pilihan Simaeru Minggu Ini
* Percikan Permenungan
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
I detest racialism, because I regard it as a barbaric thing, whether it comes from a black man or a white man. ~ Nelson Mandela
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
 
KETEGUHAN HATI SEORANG ASMARA NABABAN
Konsisten hingga Akhir
Dikutip dari Buku In Memoriam Asmara Nababan dan dari berbagai sumber.


Hari ini dan setiap tanggal 10 Desember sejak tahun 1948, dunia memperingati Hari Hak Asasi Manusia.  Di Indonesia, peringatan tahun ini terasa sangat spesial karena Pejuang dan aktivis HAM Asmara Nababan dianugerahi penghargaan Yap Thiam Hien Award 2010. Asmara semasa hidupnya dinilai telah berjuang untuk hak asasi dengan tulus dan berani.


"Asmara pejuang HAM yang konsisten, tidak mencari pujian dan penghargaan," kata Todung Mulya Lubis dalam jumpa pers di Gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Rabu (8/12/2010).

Penghargaan Yap Thiam Hien ke-18 ini diberikan kepada keluarga Asmara Nababan pada Jumat (10/12) pukul 19.00 WIB di Pusat Perfilman Usmar Ismail, Jl Rasuna Said, Kuningan. Asmara wafat pada usia 64  bertepatan pada Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2010 karena sakit kanker paru-paru. Asmara dimakamkan di TPU Tanah Kusir.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Asmara Victor Michael Nababan adalah nama yang diberikan kedua orang tuanya yang sangat bangga ketika putera bungsu mereka lahir di Siborong-borong, Tapanuli Utara, Sumatera Utara pada tanggal 2 September 1946. Asmara lahir sebagai anak ke-11 dari pasangan Bapak Jonathan L. Nababan, seorang guru HIS (Hollandsch Inlandsch School) di Tarutung, dan Ibu Erna Intan Dora boru Lumban Tobing, seorang guru perempuan pertama di Tapanuli Utara dan juga sebagai Kepala Sekolah Meisjes School di Balige sebelum ia menikah dengan Bapak Jonathan L. Nababan. Kedua orangtuanya merupakan panutan dan kebanggaannya.




Asmara sangat mencintai ibunya dan ia anak kesayangan orang tua dan semua saudaranya. Ketika ibunya sakit berkepanjangan, Asmara memutuskan untuk datang dan menemani beliau selama dua tahun, “Waktu kecil, saya ingin sekali memberikan hadiah sepatu emas untuk ibu saya. Merawat ibu saya merupakan sepatu emas untuk beliau” ujar Asmara menjelaskan keputusan tersebut pada hari ulang tahunnya yang ke-60.

Masa Kecil Asmara …..
Semasa di bangku sekolah dasar dan sekolah menengah (1952-1964), Asmara menghabiskan masa kecilnya di Medan. Kemudian oleh ayahnya, Asmara disekolahkan ke Jakarta.  Sebagai anak bungsu, Asmara cilik sering dibela oleh abang-abangnya tatkala ia harus berkelahi dengan teman sekolahnya atau bertemu dengan pemuda berandalan. Betapa tidak, abangnya terdiri dari enam orang dan disegani para pemuda di sekitar tempat tinggalnya.

Setamat SMA, Asmara sempat melanjutkan studinya di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (UKI), kemudian Fakultas Sastra Inggris di UKI, lalu melanjutkan studi perfilman di Lembaga Kesenian Jakarta sebelum akhirnya ia menamatkan studinya di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (1975). Pada masa kuliahnya, Asmara dikenal sebagai aktivis kampus yang konsisten memperjuangkan demokrasi. Ia turut dalam pergerakan mahasiswa bersama Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) di awal tahun 1970-an, dimana ia menjadi senior terfavorit bagi para anggota yang lebih muda.

Sebelum Pemilu 1971, ia mempelopori Deklarasi Golongan Putih (Golput) bersama Arief Budiman dan Adnan Buyung Nasution yang mengkritisi penyelenggaraan pemilu yang tidak demokratis dan turut dalam aksi protes pembangunan Taman Mini Indonesia Indah, serta membentuk Komite Anti Korupsi bersama Arief Budiman, Akbar Tanjung, dkk (1970). Sebagai mahasiswa yang aktif, ia berjumpa dengan banyak orang dari berbagai kalangan. Inilah yang akhirnya membentuk pemuda Asmara menjadi orang yang mudah bergaul, mencintai sesama, dan setia memperjuangkan hak asasi manusia. 

Pemuda Asmara tidak hanya pandai dalam studinya, namun ia juga disenangi teman-temannya. Kegiatannya tidak hanya fokus ke masalah sosial dan hukum, namun juga dunia pendidikan, agama, lingkungan hidup dan seni. 

Bertemu Kekasih Hati dan Menjadi Bapak Idola
Perjumpaan dengan seorang dara manis bernama Magdalena Helmyna Maniara Sitorus (sering disebut Butet), berawal dari suatu pertemuan di GMKI. Magdalena adalah puteri dari Bapak R. W. Sitorus dan Ibu Jumika Silaen. Kisah Asmara dan Magdalena dilanjutkan dengan pernikahan pada tanggal 20 Februari 1974 di gereja HKBP Hang Lekiu Jakarta.

Pasangan Asmara dan Magdalena dikaruniai tiga orang puteri dan seorang putera. Puteri pertama Juanita Miryam Hotmaida Nababan saat ini sedang menempuh program doctoral Bidang Ekonomi dan tinggal di Frankfurt. Puteri kedua, Natasha Ruth Mariana Nababan berkarir sebagai praktisi hukum di perusahaan minyak internasional. Sedangkan puteri ketiga, Aviva Selma Bulan Nababan bekerja sebagai peneliti dan penerjemah di Jakarta. Putera bungsu Yehonathan Uli Asi Nababan yang saat ini tengah menyelesaikan studinya sambil menggeluti bidang bela diri. Ia menikah dengan Sarina Attaliotis dan tinggal di Adelaide.

Sosok Asmara Nababan bukan hanya seorang ayah yang sangat mencintai putera-puterinya, namun ia juga sahabat terbaik bagi semua anaknya dan terutama bagi Magdalena istrinya terkasih yang juga seorang aktivis hak asasi perempuan dan anak-anak. Saat ini Magdalena adalah Komisioner di Komisi Perlindungan Anak Indonesia. Ia senantiasa berdiskusi dengan istri dan anak-anaknya tentang berbagai masalah, termasuk isu-isu sosial dan politik.

Dalam dokumentasi keluarga Asmara Nababan pada malam Penghargaan Yap Thiam Hien Award 2010, keluarganya menuliskan demikian: Bapak terkadang mengutip pepatah ini, "Kau tidak bisa mencegah burung untuk melntas di kepalamu, tapi kau bisa mencegahnya dari bersarang di situ". Arti pepatah ini, menurut Bapak, adalah bahwa kita memang tidak bisa menghindari masalah yang datang ke kehidupan kita, namun kita bisa mencegahnya dari menghantui pemikiran dan menjadikan kita larut dalam masalah tersebut. "Kami rasa pepatah ini merangkum bagaimana Bapak menjalani hidup. Bapak selalu terlihat santai di rumah, walau pun kemudian nanti kami akan mendengar bahwa sebenarnya Bapak pada saat itu sering mendengar ancaman dari berbagai kelompok karena kegiatannya. Ia memang selalu mengalir tenang seperti sungai, ketika ada batu di hadapannya ia bisa mencari jalan mengitarinya agar tetap mengalir, dan bila ada yang mencoba membendungnya, ia dapat mengumpulkan kekuatan yang luar biasa untuk mendobrak dinding penghalang tersebut".

Pejuang HAM Indonesia yang Sejati
HAM, ‘Hak Asasi Manusia’ seakan sudah menjadi nama tengah dari Asmara Nababan. Sepanjang hidupnya, Asmara Nababan dikenal dengan kiprahnya memperjuangkan tegaknya hak asasi manusia di Indonesia. Ia sangat percaya dengan kekuatan masyarakat sipil dan berpartisipasi dalam pembentukan ataupun menjadi Dewan Pembina dari pelbagai organisasi yang berfokus pada HAM dan demokrasi, seperti Kontras, PIJAR, ELSAM, Demos, Komunitas Indonesia untuk Demokrasi (KID), INFID, HAK di Timor Leste, HRRCA dan lain sebagainya.

Bahkan ketika pada tahun 1983-1985 saat ia kembali ke Siborong-borong untuk menjaga ibunya yang sakit, ia tetap terlibat dalam pembentukan Kelompok Studi dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM) guna membangkitan gerakan masyarakat sipil di Sumatera Utara.

Ia menjadi anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia pada 1993-2002 dan pernah menjabat Sekretaris Jenderal pada tahun 2000-2002. Di Komnas HAM, Asmara Nababan bertugas dalam beberapa misi dari Aceh hingga Papua untuk investigasi pelanggaran HAM, termasuk menjadi anggota KPP HAM untuk Pelanggaran Berat di Timor Timur.

Kiprah Asmara Nababan dalam dunia perjuangan penegakan HAM dan demokrasi di Indonesia diawali ketika ia menjadi aktivis kampus Universitas Indonesia. Asmara juga pernah menjabat Sekretaris Eksekutif NGOs Forum on Indonesian Development (INFID) tahun 1994-1998. Tahun 1998 Asmara turut mendirikan Kontras (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) bersama Munir, Ade Rostina Sitompul, Bambang Wijayanto, Mulyana W. Kusumah.


Dia tak pernah gentar menghadapi orang-orang kuat yang punya kekuasaan,” kata Usman Hamid, Koordinator Kontras kepada Kompas.


Salah satu sifatnya yang paling menonjol adalah ia selalu melihat orang lain dari sisi yang terbaik, dan selalu ingin membantu. Bagi Don Marut, Direktur Eksekutif INFID, Asmara selalu ada ketika dimintai saran, nasihat dan bantuan tanpa rasa lelah. “Di balik ketegasannya selalu ada rasa cinta yang luar biasa kepada sesama,” ujarnya. “Ia pejuang HAM yang tak pernah kendor semangatnya, bahkan ketika dia sudah terbaring sakit,” tambah Don kepada Suara Pembaruan. 

Sebagaimana barang koleksi favoritnya, Asmara sering mendefinisikan dirinya sendiri seperti teko. Menjadi wadah air sekaligus membaginya. Prinsip membagi dan merelakan dirinya ini begitu menonjol,” Kata Antonio Prajasto, Direktur Eksekutif Demos. “Walaupun demikian”, tambah Antonio kepada Kompas, “Asmara bisa menjadi sangat keras dan tak kenal kompromi jika sudah menyangkut perjuangan hak asasi manusia”.

Hingga akhir hayatnya, Asmara Nababan masih aktif sebagai Ketua Badan Pengurus Demos (www.demosindonesia.org), Lembaga Kajian Demokrasi dan Hak Asasi (Center for Democracy and Human Rights Studies) dan Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM). Bang As, demikian ia kerap dipanggil oleh teman-teman sesama aktivis HAM dan demokrasi, juga adalah penggagas dan anggota Governing Board of the Human Rights Resource Centre for ASEAN (HRRCA). Lembaga ini berdiri sejak 31 Maret 2010 dan bergerak di bidang riset dan pendidikan hak asasi manusia serta pengembangan human rights resource centre untuk kawasan ASEAN. Asmara menggagas berdirinya lembaga ini bersama Marzuki Darusman, Ong Keng Yong (mantan Sekjen ASEAN), Harkristuti Harkrisnowo, Theary Seng (Kamboja), Param Cumaraswamy (Malaysia), Carolina Hernandez (Filipina), Kevin Tan (Singapore), dan Kavi Chongkittavorn (Thailand).


Sejak 2003 hingga 2010, Asmara sering mewakili Indonesia dan beragam organisasi LSM sebagai pembicara dalam berbagai diskusi dan seminar internasional di kawasan Asia Pasific tentang Hak Asasi Manusia dan Demokrasi pada forum East West Center (www.eastwestcenter.org). Asmara juga salah satu pendiri dan pemimpin redaksi majalah anak-anak Kawanku, sebagai bentuk perjuangan dan kontribusinya bagi anak Indonesia. Asmara pernah menjadi Direktur Eksekutif Yakoma-DGI (Yayasan Komunikasi Massa Dewan Gereja-gereja di Indonesia) 1978-1983. Selain itu, Asmara juga aktif sebagai Sekretaris Dewan Pembina Yayasan Leuser Indonesia (2008).



Asmara Nababan di Mata Sahabat
Asmara Nababan kerap terlibat dalam Tim Pencari Fakta (TPF) sejumlah kasus HAM, antara lain anggota TPF kasus penyerbuan markas PDI-P 27 Juli 1996, anggota Tim Gabungan Pencari Fakta Kerusuhan Mei 1998, dan Wakil Ketua TPF Kasus Pembunuhan Munir, rekan seperjuangannya dalam menegakkan HAM di Indonesia. Asmara juga dipercaya untuk menjadi anggota Dewan Pakar Komisi Pengawas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam Bidang HAM.

Asmara Nababan seringkali dianggap sebagai abang, guru dan sahabat yang sangat konsisten dalam penegakan HAM dan demokrasi di Indonesia. Banyak yang merasa kehilangan atas kepergiannya. Bang As merupakan salah satu intelektual dan aktivis HAM dan demokrasi, yang tidak saja mengembangkan gagasan-gagasan ilmiah dan progresif, tapi juga menjalani dan menekuninya sebagai bagian hidup yang tak terpisahkan,” ujar
Ketua Setara Institute, Hendardi.


Menurut Ifdhal Kasim, Ketua Komnas HAM, “Seumur hidupnya Asmara tidak ingin mengunjungi Taman Mini Indonesia Indah, bahkan beberapa jalan tol di Jakarta juga tidak ingin dilewatinya karena Asmara tahu persis terdapat kecurangan atau korupsi di balik pembangunan jalan tersebut”.

Sebenarnya ia dapat memanfaatkan kesempatan untuk memperkaya keluarganya, tapi ia memilih tetap sederhana dan rendah hati. Ia selalu bersepatu sandal dan menyandang tas kain. Kesederhanaan itulah kekuatan Bang As”, ujar Usman Hamid Koordinator Kontras.

Advocat senior Adnan Buyung Nasution menegaskan, “Pengabdian Asmara dalam gerakan HAM adalah luar biasa dan patut menjadi contoh bagi generasi muda, beliau pejuang HAM nomor wahid, penuh dedikasi, tegas dan berani”.

Abdul Haris Semendawai, rekan kerjanya menjelaskan, “Asmara orang yang hangat dan sangat perhatian pada teman-teman, ia suka berbincang tentang hukum dan HAM karena memang cita-citanya menegakkan HAM di Indonesia”.

Ketua DPP PAN Bara Hasibuan mengenang aksi perjuangan Asmara dalam membela berbagai kasus HAM. “Asmara aktivis HAM yang mampu bersikap realistis dalam berjuang. Selama Asmara menjabat Sekjen, Komnas HAM sangat aktif membentuk KPP HAM untuk menyelidiki berbagai kasus pelanggaran HAM”, tegasnya.

Sebagai orang Kristen, Asmara adalah role model saya,” ujar Ignas Kleden  sahabatnya di Komunitas Indonesia untuk Demokrasi (KID) melalui sms. "Berulang kali saya mengalami bahwa apabila dibutuhkan suatu informasi penting atau pemikiran untuk mengatasi kebuntuan, Asmara mengusulkan sesuatu yang justru dibutuhkan untuk mendapatkan jalan keluar, entah menyangkut masalah hukum, organisasi, atau manajemen. Dia mempunyai stock of knowledge at hand yang tidak diumbar sebarang waktu, tetapi yang siap digunakannya untuk melayani suatu kebutuhan", tulis Ignas Kleden di harian Kompas.


~~~~~~~~~~~~
Asmara Nababan once said that he was often subject to
intimidation for his activity but that such threats failed to
dampen his spirit. “My life and fate depend not on human
rights abusers but on Almighty God. I am ready to die here and
now if that’s His will,” he told The Jakarta Post in 2005.
~~~~~~~~~~~~
Ia Telah Berpulang
Jarang sekali keluarga dan kerabatnya mendengar Asmara mengeluh sakit. Keseriusannya dalam bekerja dan kegigihannya berjuang untuk orang lain yang sering terabaikan, membuatnya lupa bahwa tubuhnya mengidap penyakit serius. Kanker paru-paru yang dideritanya seakan mengganggu ‘keasyikannya’ memperjuangkan hak-hak asasi manusia di Indonesia.

Setelah menyadari adanya penyakit yang sering membuat ciut nyali banyak orang ini, Asmara tetap tidak gentar menghadapinya. Sementara ia berobat dan beberapa kali sempat dirawat inap di rumah sakit, Asmara tetap giat mengikuti rapat-rapat rutin dan melakukan tugasnya ke luar kota.


Upaya untuk memperoleh kesembuhan juga dilakukannya bersama keluarga hingga ke Rumah Sakit Fuda, Guangzhou, China. Tetapi Tuhan ternyata mempunyai rencana lain. DIA sangat mencintai Asmara, sehingga belum sempat beliau mengalami penderitaan berat akibat penyakitnya, Tuhan Yang Maha Kuasa telah memanggilnya untuk beristirahat dengan tenang pada hari Kamis tanggal 28 Oktober 2010 jam 12:30 waktu setempat atau 11:30 WIB di Rumah Sakit Fuda, Guangzhou, China pada usia 64 tahun.

Asmara Nababan telah meninggalkan kita dengan kenangan yang begitu mengesankan dan teladan  keteguhan hati yang sangat baik. Asmara adalah teman dan sahabat sejati untuk siapa pun yang berjuang untuk menegakkan hak asasi manusia dan demokrasi di Indonesia. Nama Asmara Nababan diabadikan pada sebuah ruangan di Gedung Komnas HAM, tempat dimana banyak rakyat mengadu nasibnya kepada lembaga tersebut ...

Catatan: Foto-foto diperoleh dari koleksi keluarga dan berbagai sumber teman-teman organisasi seperjuangan Asmara Nababan. Terima kasih atas sumbangsihnya.

(Tulisan ini disajikan – untuk mendukung semangat "Menuju Indonesia yang Lebih Baik" melalui hidup yang konsisten hingga akhir berjuang untuk keadilan dan kebenaran – BRN).
*************************************************** 
We gain strength, and courage, and confidence by each experience in which we really stop to look fear in the face... we must do that which we think we cannot. ~ Eleanor Roosevelt
I detest racialism, because I regard it as a barbaric thing, whether it comes from a black man or a white man. ~ Nelson Mandela
Perjuangan hak asasi manusia tak lagi dibatasi waktu dan tempat. Jagad raya ini adalah tempat kita berjuang. Hak asasi manusia tidak punya etnisitas atau nasionalitas, tak punya tanah air; ia konsep universal yang berlaku dimana saja terhadap manusia mana saja. ~ Todung Mulya Lubis
For this generation, ours, life is nuclear survival, liberty is human rights, the pursuit of happiness is a planet whose resources are devoted to the physical and spiritual nourishment of its inhabitants. ~ Jimmy Carter

1 komentar:

  1. Berharap ... perjuangan anda tak pernah surut, demi Hak Azasi Manusia dan Demokrasi di Indonesia.
    Mereka yang ikut berjuang bersama anda, semoga selalu berlari di jalan yang telah dirintis.

    Selamat Jalan Bapak Asmara Nababan.
    Istirahatlah dengan damai.

    BalasHapus